Sabtu, 12 September 2009

Hadist Dha'if ( PALSU ) Seputar Ramadhan

Ibadah adalah tujuan utama mengapa Allah swt menciptakan jin dan manusia. dan wewenang untuk mem-buat sebuah ibadah adalah wewenang Allah swt. Dia mengutus para rasul dan nabi dengan membawa kitab suci dari masing-masing utusan itu agar menjadi petunjuk bagaimana manusia beribadah kepada Rabb-nya.
Pun dengan Rasulullah Muhammad saw yang tidak lain adalah sebagai pem-bawa risalah dari Allah swt. Beliau menuntun ummatnya untuk senantiasa taqwa kepada Allah dengan memperbanyak amal ibadah. Sebagai nabi, beliau hanya menyampaikan dan menjelaskan tata cara ibadah yang mesti dilakukan oleh umatnya, dan beliau sama sekali tidak membuat ibadah apapun.

Semua ajaran Islam dan praktik iba-dah yang terkandung di dalamnya, ha-ruslah berasal dari ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah saw yang shahih. Adapun penyimpangan-pe-nyimpangan yang kini terjadi, biasa terjadi akibat salah dalam mengambil dasar hukum sebagai pijakan. Terse-barnya hadits-hadits palsu maupun le-mah, menjadi salah satu kontributor meluasnya praktik-praktik bid’ah. Tidak sedikit dari kaum muslimin yang ‘ter-tipu’ dengan hadits-hadits palsu mau-pun lemah dan beramal dengannya.

Berikut adalah beberapa hadits pal-su dan lemah yang cukup populer di kalangan kaum muslimin; serta menjadi dalil-dalil umum yang kaum muslimin berhujah dengannya:

1. Tidurnya adalah Ibadah

نَوْمُ الصَّائِمُ عِباَدَةٌ وَصَمْتُهُ تَسْبِيْحٌ وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ وَدُعاَؤُهُ مُسْتَجَابٌ وَذَنْبُهُ مَغْفُوْرٌ   

“Tidurnya orang puasa merupakan iba-dah, diamnya merupakan tasbih, amal-nya dilipatgandakan (pahalanya), doa-nya dikabulkan dan dosanya diampuni.” (HR. Baihaqi dan ad-Dailami dalam Kitab Syu’abul Iman)

Walaupun kandungan atau isi hadits tersebut terdapat hal-hal yang memang sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw, yaitu tersebut dalam beberapa hadits shahih, seperti diampunkannya dosa-dosa serta dilipatgandakannya amalan-amalan baik, namun para ulama hadits sepakat bahwa hadits ini adalah hadits palsu.

Meski ada beberapa ulama, seperti as-Suyuti dan al-Albani yang mengatakan bahwa derajat hadits ini dhaif (lemah).

2. Awalnya adalah rahmat, …

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيْمٌ، شَهْرٌ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، جَعَلَ الله ُصِيَامَهُ فَرِيْضَةً وَقِيَامَ لَيْلَتِهِ تَطَوُّعًا، مَنْ تَقَرَّبَ فِيْهِ بِخَصْلَةٍ مِنَ اْلخَيْرِ كَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ … وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ، وَوَسَطُهُ مَغْفِرَةٌ، وَآخِرَهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ

“Wahai manusia sungguh telah datang pada kalian bulan yang agung, bulan yang di dalamnya ada malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Allah menjadikan puasanya sebagai kewajiban, dan shalat malamnya sebagai sunnat. Barangsiapa mendekatkan diri di dalam-nya dengan suatu perkara kebaikan maka dia seperti orang yang menunaikan suatu kewajiban pada bulan lainnya… Dialah bulan yang awalnya itu rahmat, pertengahannya itu maghfirah/ampunan, dan akhirnya itu ‘itqun minan naar/be-bas dari neraka…(hingga akhir hadits)”

Hadits yang cukup panjang ini diriwayatkan oleh al-’Uqaili dalam kitab khusus tentang hadits dha’if yang berjudul adh-Dhu’afa’. Juga diriwayatkan oleh al-Khatib al-Baghdadi dalam kitabnya Tarikhu Baghdad. Serta diriwayatkan juga oleh Ibnu Adiy, ad-Dailami, dan Ibnu Asakir.

Berikut adalah beberapa komentar para ulama hadits mengenai hadits ini: Ibnu Sa’ad berkata, “Di dalamnya ada kelemahan dan jangan berhujjah dengannya.” Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Tidak kuat.” Ibnu Ma’in berkata, “Dha’if.” Ibnu Abi Khaitsamah berkata, “Lemah di segala segi”, Ibnu Khuzaimah berkata, “Jangan berhujjah dengan hadits ini karena jelek hafalannya.”

Menurut Syaikh Muhammad Nashi-ruddin al-Albani, hadits ini nilainya munkar, yaitu hadits yang di dalam sanadnya terdapat rawi (periwayat hadits) yang hafalannya diragukan serta tergolong suka bermaksiat. Hadits munkar adalah termasuk hadits yang dikategorikan sangat lemah dan tidak bisa dijadikan hujjah.

Sumber kelemahan hadits ini adalah adanya dua orang rawi dalam sanadnya, masing-masing bernama Sallam bin Sawwar dan Maslamah bin al-Shalt. Menurut kritikus hadits Ibnu Adi, Sallam bin Sawwar adalah munkar al-hadits (orang yang riwayat haditsnya tertolak), Sedangkan Maslamah bin al-Shalt adalah matruk (yang berarti riwayat haditsnya ditolak). Baik munkar ataupun matruk, kedua-duanya tidak bisa dijadikan dalil dalam beramal.

3. Berharap Ramadhan selamanya

لَوْ يَعْلَمُ اْلعِبَادُ مَا فِي رَمَضَانَ لَتَمَنَّتْ أُمَّتيِ أَنْ يَكُوْنَ رَمَضاَنُ السَّنَةَ كُلَّهَا، إِنّ اْلجَنَّةَ لَتُزَيَّنُ لِرَمَضَانَ مِنْ رَأْسِ اْلحَوْلِ إِلىَ اْلحَوْلِ …

“Seandainya hamba-hamba tahu apa yang ada di bulan Ramadhan pasti ummatku akan berangan-angan agar Ramadhan itu jadi satu tahun seluruhnya, sesungguhnya surga dihiasi untuk Ramadhan dari awal tahun kepada tahun berikutnya….” hadits ini panjang.

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (no. 1886) dan dinukil oleh Ibnul Jauzi dalam Kitabul Maudhu’at (Kitab tentang Hadits-hadits palsu, 2/188-189) dan Abu Ya’la di dalam Musnad-nya sebagaimana pada al-Muthalibul Aaliyah (Bab A-B/ manuskrip) dari ja-lan Jabir bin Burdah, dari Abi Mas’ud Al-Ghifari.

Hadits ini maudhu’ (palsu), cacat-nya pada Jabir bin Ayyub, riwayat hi-dupnya dinukil Ibnu Hajar dalam Li-sanul Mizan (2/101) dan (beliau) berkata: “Terkenal dengan kelemahan (dha-’if)” beliau juga menukil ucapan Abu Nu’aim tentangnya: “Dia itu suka me-malsukan hadits.” Al-Bukhari juga ber-kata, “Haditsnya tertolak”, dan menurut an-Nasai, “matruk” (ditinggalkan/tidak dipakai haditsnya).”!!

4. Ramadhan Tergantung Zakat Fithrah

شَهْرُ رَمَضَانَ مُعَلَّقٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ ، وَلاَ يُرْفَعُ إِلَى اللهِ إِلاَّ بِزَكَاةِ اْلفِطْرِ ” .

“(Ibadah) bulan Ramadhan digantung-kan antara langit dan bumi dan tidak diangkat kepada Allah kecuali dengan zakat fitrah.” (HR. Ibnu Syahin dalam Targhib-nya dan Dhiya‘ al-Maqdisi).

Hadits ini didha‘ifkan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah Ahaadits adh-Dha‘ifah jilid 1, hal. 117. no. Hadits: 43. Menurut para ulama, di dalam sanad hadits ini terdapat rawi yang majhul (tidak dikenal identitasnya) dan matan-nya (isi haditsnya) juga bermasalah. Karena, ibadah Ramadhan dan zakat fithrah itu adalah ibadah yang nilainya sendiri-sendiri. Tidak seperti shalat dan wudhu yang saling terkait, yakni tidak sahnya shalat seseorang tanpa berwudhu.

Satu hal lagi, tidak ada para ulama fiqih yang menyatakan demikian, yakni menganggap batal puasa Ramadhan seseorang jika tidak berzakat fithrah.

Itulah beberapa hadits ‘bermasalah’ yang terkait dengan bulan Ramadhan dan cukup populer di tengah-tengah masyarakat kita.

Sumber

Jumat, 11 September 2009

Award Pertama


Wah asyik... dapet Award perdana dari sobat Mas Prasetyo terima kasih ya mas...sebelumnya saya minta maaf baru buat postingannya karena "busy in real life", setelah saya baca - baca eh ada Awardnya dan untuk itu award ini kupersembahkan kepada : Nophie, yang memberikan saya pencerahan pada "label cloudnya" semoga dengan award ini lebih mempererat persahabatan dan tali silaturahmi.

Dan, pada kesempatan ini saya juga membagikan kebahagiaan saya ini pada rekan-rekan yang sudah bersedia berkunjung di blog ini, yaitu ;
1. Ria Imut : ( http://sportcorner007.blogspot.com/)
2. Lusie : ( http://www.teacherside.blogspot.com/ )
3. Mas Doyok : ( http://www.masdoyok.co.cc/ )
4. Wilyo : ( http://blekenyek.blogspot.com/ )
5. Tengku : ( http://forantum.blogspot.com/ )

Tata Cara Pengambilan :

1. Buat posting singkat mengenai award ini
2. Cantumkan nama + link pemberi
3. Bagikan kepada 5 orang teman lainnya dengan meletakkan link ini

a. Welcome To My Blog
b. Nama kalian
c. Nama yang kalian beri 1

untuk link a (pemberi) tidak boleh dihilangkan / dihapus

4. Download image award diatas

5. silahkan diambil, dengan mengambil award dan buat postingannya , berati kalian ikut memberikan dukungan terhadap jalinan persahabatan ini.

Menyambut Hari Raya Iedul Fithri dan Iedul Adha ( 2 )

Alhamdulillah... kita masih dipanjangkan umur sampai pada Iedul Fithri 1430H, Sholawat dan Salam untuk Rosulullah Muhammad SAW, pemberi syafaat di yaumil  kiamat dan yang telah memberi petunjuk dari jalan gelap menuju jalan yang di ridhoi Allah SWT, yaitu Islam.. baik agar tidak terlalu jemu dengan Mukadimah..pada artikel pertama saya membahas mengenai filosofi Iedul Fithri itu sendiri...dan artikel ini saya akan bahas mengenai adab untuk menyambut Hari Raya Iedul Fithri bag. ( 2 ),
Allah SWT, menjadikan satu tahun itu dua hari raya, yaitu Hari Raya Iedul Fthri yang dilaksanakan setelah Puasa Ramadhan satu bulan penuh, dan Iedul Adha pada saat Waqaf di Arafah, kedua hari raya tersebut Allah persembahkan untuk umatnya bersenang - senang dan bergembira...dan dilarang untuk melakukan ibadah puasa pada ke dua hari tersebut...

Berikut Adab - adab menyambut Hari Raya ;
  1. Niat dengan hati yang Ihklas karena Allah ta'ala ; karena niat adalah dasar segala urusan umat islam.
  2. Mandi ; hendaknay kita mandi seperti mandi di hari Jum'at sebelum ke Masjid
  3. Memakai Wewangian ; hendaknya memakai wewangian, tetapi wewangian dikhususkan untuk laki - laki, sedangkan wanita dilarang memakai wewangian terkecuali untuk suaminya dirumah.
  4. Berpakaian yang baik dan baru ; hendaknya memakai pakaian baik dan baru, tetapi apabila masih ada baju yang bagus tidak diwajibkan membeli baju baru.
  5. Mengeluarkan Zakat Fitrah ; mengeluarkan zakat fitrah itu dilakukan sebelum shalat Ied, dan untuk pertanyaan seputar Zakat klick disini
  6. Menyembelih Hewan Kurban ; menyembelih hewan kurban setelah sholat Iedul Adha, apabila menyembelih hewan sebelum sholat maka tidak termasuk hewan kurban, dan dapat dimakan oleh keluarga.
  7. Memakan Kurma ; Rasulullah SAW, memakan kurma sebelum hari raya Iedul Fithri dan memakan hewan kurban setelah hari raya Iedul Adha. seperti hadist berikut ;
  8. Dari Buraidah ia berkata : “Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam tidak pergi (shalat Ied) pada hari raya Fithri hingga ia makan dan tidak makan pada hari raya Adlha hingga ia pulang.” (HR. Tirmidzi nomor 245, Ahmad nomor 33 dan 44, Ibnu Majah bab 49, Ad Darimi bab 217, Al Hakim dalam Al Mustadrak 1/294, beliau menshahihkannya, Ath Thayalisi nomor 811, Nailul Authar oleh Asy Syaukani juz 3 halaman 355, hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Al Qahthan)
  9. Bersegeralah Menuju Masjid ; Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

    "Artinya : Seandainya manusia mengetahui keutamaan panggilan adzan dan shaf awal kemudian tidaklah mereka bisa mendapatinya kecuali dengan berundi, pastilah mereka berundi dan seandainya mereka mengetahui keutamaan bersegera menuju masjid niscaya mereka akan berlomba-lomba dan seandainya mereka mengetahui keutamaan sepertiga malam yang awal dan shubuh niscaya mereka akan datang kepadaKu walaupun dengan merangkak". [Hadits Riwayat Bukhari no. 615 dan Muslim no. 437] 
  10.  
    Dengan berjalan kaki ke Masjid maka akan terhapus dosa - dosa kita, seperti hadist berikut ; 
"Artinya : Maukah kalian aku tunjukkan apa-apa yang menyebabkan Allah menghapuskan dosa dan mengangkat derajat kalian". Mereka berkata: "Ya, wahai Rasul"
    kemudian Rasul menyebutkan salah satunya adalah memperbanyak langkah menuju masjid. [Hadits Riwayat Muslim no. 251]
Demikianlah adab - adab menyambut Hari Raya..Wa Allahu a'lam....

Kamis, 10 September 2009

Menyambut Hari Raya Iedul Fitri dan Iedul Adha

Setiap tanggal 1 syawal seluruh umat Islam diseluruh dunia selalu merayakan Hari Idul Fithri dengan penuh kegembiraan dan rasa syukur. Hari Raya Idul Fithri merupakan puncak dari seluruh rangkaian proses ibadah selama bulan Ramadhon, dimana dalam bulan tersebut kita melakukan ibadah shaum dengan penuh keimanan kepada Allah SWT. Penetapan Hari Raya Idul Fithri oleh Rasulullah SAW dimaksudkan untuk menggantikan Hari Raya yang biasa dilaksanankan orang­-orang Madinah pada waktu itu. Hal ini sesuai dengan Hadits Rasulullah SAW yaitu :
"Jabir ra. Berkata : Rasulullah SAW datang ke Madinah, sedangkan bagi penduduk Madinah ada dua hari yang mereka ( bermain-main padanya dan merayakannya dengan berbagai permainan). Maka Rasulullah SAW bertanya : " Apakah hari yang dua ini ? " Penduduk Madinah menjawab : " Adalah kami dimasa jahiliyah bergembira ria padanya ". Kemudian Rasulullah bersabda : " Allah telah menukar dua hari itu dengan yang lebih baik yaitu Idul Adha dan Idul Fithri ". (HR Abu Dawud)
 PENGERTIAN IDUL FITHRI
Menurut Abu Irsyad kalau ditilik kembali, pendapat yang mengartikan idul Fithri dengan "kembali menjadi suci" tidak sepenuhnya benar, karena kata "Fithri" apabila diartikan dengan "Suci" tidaklah tepat. Sebab kata "Suci" dalam bahasa Arabnya adalah "Al Qudus" atau "Subhana".
Untuk memperoleh pengertian itu kita bisa memulainya dengan melihat makna asal ungkapan Arab id al-fithr. Kata id berasal dari akar kata yang sama dengan kata `awdah atau `awdat-un, `adab atau adat-un dan isti'adat-un. Semua kata-kata itu mengandung makna asal "kembali" atau "terulang" yakni, sebagai "adat kebiasaan"). Dan hari raya diistilahkan sebagai id karena ia datang kembali berulang-ulang secara periodik dalam daur waktu satu tahun.
Makna asal kata-kata "fithri" kiranya sudah jelas, karena satu akar dengan kata "fitrah" (fithrah), yang artinya "Pencipta" atau "Ciptaan". Secara kebahasaan, fithrah mempunyai pengertian yang sama dengan khilqah, yaitu "ciptaan" atau "penciptaan". Tuhan Yang Maha Pencipta disebut dengan A-Khaliq, atau Al-Fathir. Sebagai contoh, misalnya kita lihat dalam Al Qur'an :


"Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu". (QS Al Fathir 35 : 1)
Berdasarkan uraian diatas maka penulis menyimpulkan bahwa kata "Idul Fithri" mempunyai minimal tiga pengertian yaitu :
1.     Kembali ke Awal Penciptaan.
2.     Kembali ke Penciptaan Yang Awal.
3.     Kembali ke Sang Maha Pencipta

Wa Allahu a'lam.........